06 Jan 2026
Perkembangan teknologi kerap dipahami sebagai jalan menuju efisiensi dan kemajuan. Namun, bagaimana jika teknologi justru memperkuat ketidakadilan yang sudah lama ada? Pertanyaan inilah yang menjadi benang merah film dokumenter Coded Bias. Film ini mengajak penonton menelusuri sisi lain kecerdasan buatan—sebuah teknologi yang selama ini dianggap netral, objektif, dan bebas kepentingan, tetapi ternyata menyimpan bias yang berdampak langsung pada kehidupan manusia.
Melalui riset ilmuwan MIT Media Lab, Joy Buolamwini, Coded Bias membuka fakta bahwa sistem pengenalan wajah berbasis Artificial Intelligence (AI) sering kali gagal mengenali perempuan dan kelompok minoritas. Temuan ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan dari struktur sosial yang timpang dan kemudian direproduksi oleh algoritma. Film ini menjadi pengingat bahwa teknologi tidak pernah benar-benar berdiri di ruang hampa—ia lahir dari nilai, data, dan keputusan manusia.
Sebagai dokumenter, Coded Bias tidak hanya menyajikan data dan temuan ilmiah, tetapi juga membangun narasi kritis tentang relasi antara teknologi, kekuasaan, dan hak asasi manusia. Di tengah pesatnya adopsi AI dalam berbagai sektor, film ini relevan untuk dibaca sebagai peringatan: kemajuan teknologi tanpa kesadaran etis berpotensi menghadirkan bentuk baru ketidakadilan digital.